Abstrak        Paper ini membahas bagaimana teknologi interaktif berperan sebagai faktor utama yang menjelaskan pertumbuhan dan keunggulan L...

Abstrak 
    Paper ini membahas bagaimana teknologi interaktif berperan sebagai faktor utama yang menjelaskan pertumbuhan dan keunggulan LSM. Penulis paper ini, yaitu Jonathan dan David memposisikan teknologi interaktif bukan sebagai alat melainkan sebagai bagian dari proses evolusi bersama yang membentuk praktik organisasi. Saat review ditulis, paper ini sudah berusia 18 tahun. Meskipun demikian, pendekatan yang digunakan pada paper ini berhasil memberikan penjelasan yang cukup kuat dan relevan untuk menjelaskan transformasi LSM hingga saat ini, terutama jika dikawinkan dengan perkembangan revolusi industri 4.0—yang menawarkan teknologi Big Data dan Data Science yang sedang populer dewasa ini. 

Keyword: LSM, Teknologi Interaktif, Pengetahuan. 

Image by Rudy and Peter Skitterians from Pixabay 


1. Problem yang Dibahas 
    Jonathan dan David mengawali pembahasan langsung pada inti persoalan, yaitu ko-evolusi LSM yang dipicu oleh teknologi interaktif. Untuk dapat memahami bentuk organisasi baru ini, J&D mengajak pembaca untuk mempelajari bagaimana peran dan praktik LSM bertransformasi bersamaan dengan munculnya teknologi interaktif baru. Menurutnya, transformasi tersebut dipercepat oleh alat digital yang memungkinkan untuk mengakses informasi teks, audio, visual, dan data base dalam lingkungan interaktif yang luas dan masif. 

    Namun, menurut Jonathan dan David, tidak satu pun dari faktor-faktor tersebut yang secara langsung dapat menjelaskan pertumbuhan LSM. Menurutnya, semua dari teknologi interaktif tersebut hanyalah konteks yang menyediakan peluang. Oleh karena itu, inti pertanyaan pada paper ini adalah mengapa LSM dapat mengambil keuntungan dari keadaan ini?

2. Solusi Paper 
    Paper ini berusaha menunjukkan bahwa jawabannya terletak pada perkawinan ko-evolusi LSM dengan teknologi interaktif. Jonathan dan David meletakan dasar asumsi bahwa teknologi tidak dilihat sebagai alat, melainkan dilihat sebagai bagian dari proses ko-evolusi yang membentuk praktik organisasi. Pandangannya tentang masyarakat adalah sebagai entitas yang terdiri dari manusia dan bukan manusia (benda, teknologi, pengetahuan, dsb). Menurutnya, pandangan ini dapat menjelaskan mengapa LSM mampu mengambil peran yang lebih kuat dan kontroversial sebagai co-konstituen transformasi global.

3. Penjelasan Solusi 
    Jonathan dan David mengawali penjelasan dengan mengungkapkan kemunculan ruang pengetahuan akibat teknologi interaktif baru tersebut. Menurutnya, pengaplikasian teknologi interaktif terjadi sangat luas pada internet. Internet memberikan pelayanan intim terhadap LSM, yang jika dikompres maka akan menghasilkan tiga kata kunci, yaitu tautan, pencarian, dan interaksi. Menurut J&D, pelayanan internet tersebut menghasilkan apa yang disebutnya sebagai ruang pengetahuan—yang di dalamnya menghubungkan struktur sosial dengan jaringan pengetahuan. Menurutnya, perkawinan struktur sosial dengan jaringan pengetahuan tersebut menghasilkan struktur sosial kognitif dan jaringan pengetahuan kognitif. Jonathan dan David berargumen bahwa LSM dapat mengambil manfaat dengan mengembangkan dan mempromosikan jaringan pengetahuan mereka melalui ruang pengetahuan tersebut. Dari argumennya tersebut, J&D berspekulasi bahwa kemunculan bentuk-bentuk baru organisasi sosial didasari oleh perkembangan ruang pengetahuan tersebut.

    Selanjutnya, Jonathan dan David secara implisit menyatakan bahwa internet menghasilkan tatanan ruang-waktu baru, yaitu komunikasi real-time yang luas dan masif—yang dapat terhubung ke seluruh belahan dunia. Menurutnya, hal tersebut berdampak pada transformasi organisasi yang tercerminkan pada tiga bentuk perubahan. Pertama, pergeseran isu sosial dari isu kesakralan kedaulatan menjadi isu penegakan norma-norma universal. Kedua, pergeseran struktur dari struktur terdesentralisasi ke struktur terdistribusi. Ketiga, berubahnya model perubahan sosial dari model difusi menjadi model penerjemah. 

    Berikutnya, Jonathan dan David menjelaskan bahwa LSM mengalami pergeseran dari penerapan kedaulatan autarki menjadi kedaulatan kolaborasi. Menurut J&D, pergeseran ini pertanda keterlibatan LSM dalam memanfaatkan tatanan ruang-waktu baru—yang dihasilkan dari internet (teknologi interaktif baru). J&D berargumen bahwa konsep jaringan pengetahuan sejalan dengan logika operasional LSM. Secara implisit J&D juga menyatakan bahwa tampak ideal apabila LSM memanfaatkan kemudahan komunikasi dan jaringan pengetahuan yang difasilitasi oleh teknologi interaktif tersebut.

    Menurut Jonathan dan David, pertumbuhan tinggi LSM tidak hanya terkait dengan adanya peningkatan eksternal (teknologi interaktif baru), melainkan juga disebabkan LSM itu sendiri bergerak ke kolaborasi ketika menyadari bahwa kesuksesan terjadi saat kolaborasi. J&D juga menekankan pentingnya hubungan informal yang dibangun oleh pemimpin LSM sebagai pengorganisasian kekuatan selain dari akar rumput. 

    Namun, J&D tampak kesulitan dalam menjelaskan bagaimana LSM mengatasi konflik internal yang muncul akibat penerapan kedaulatan kolaborasi. J&D justru terseret kepada penjelasan relativis yang menggantungkan jawaban pada kemampuan subjektif aktor LSM dalam menghadapi konflik tersebut. Sehingga sulit untuk memisahkan antara penyebab eksternal (teknologi interaktif) atau penyebab internal (aktor LSM) dalam menentukan penyebab utama pergeseran menuju kedaulatan kolaborasi. 

    Kelemahannya tersebut semakin terbuka ketika Jonathan dan David justru menyimpulkan pernyataan dari hasil-hasil yang telah tampak pada perubahan besar LSM. Menurutnya, LSM telah berhasil berubah dan berada di garis depan dalam menggeser isu sosial dari isu kesakralan kedaulatan ke isu norma-norma universal, hal ini diakibatkan perpindahan menuju kedaulatan kolaborasi. Namun, apakah hasil perubahan tersebut mengindikasikan adanya pemanfaatan pelayanan teknologi interaktif yang berhasil? Atau justru lebih mengindikasikan keberhasilan aktor LSM? Atau terdapat faktor lainnya yang lebih signifikan? Logika deduksi yang digunakan J&D tersebut bermasalah karena berpotensi menggeneralisir setiap transofrmasi yang dialami oleh LSM. Meskipun demikian harus diakui, bahwa fungsi utama LSM sebagai penerjemah isu sosial memiliki logika yang sejalan dengan pelayanan ruang pengetahuan yang disediakan oleh teknologi interaktif. 

    Pada pembahasan selanjutnya, Jonathan dan David menyatakan bahwa penggunaan teknologi interaktif oleh LSM dan pergeseran kedaulatan menuju kolaborasi menjadikan peran LSM dalam globalisasi menguat, terutama sebagai model perantara pengetahuan. Menurutnya, penguatan model ini masuk akal. Hal ini disebabkan masyarakat modern diatur oleh informasi terukur yang diperantarai oleh mereka yang memiliki informasi dan mereka yang membutuhkannya. Dengan begitu, menurut J&D, LSM menempati posisi strategis dalam menerjemahkan isu sosial untuk menghimpun massa. 

    Menurut Jonathan dan David, LSM itu sendiri dapat bertransformasi dari penekanan fungsinya sebagai perantara informasi menjadi penekanan pada fasilitator pengetahuan (pemberi solusi). Menurutnya, LSM yang bertujuan mencari solusi dari suatu isu akan menggunakan fitur pencarian untuk menautkan dan berinteraksi. Lebih jauh lagi, peran LSM sebagai fasilitator pengetahuan dapat membawa LSM ke dalam asosiasi kekuasaan deliberatif. J&D memperkuat pernyataannya dengan mengutip hasil studi Charles Sabel, bahwa bukan negara yang lebih unggul sebagai fasilitator pengetahuan, melainkan asosiasilah yang lebih unggul sebagai fasilitator pengetahuan—yang mana asosiasi ini memungkinkan keterlibatan peran LSM di dalamnya. Dengan begitu, ketika LSM bergabung dengan asosiasi kekuasaan deliberatif tersebut, maka LSM berpotensi memainkan peran yang lebih besar dalam pengembangan institusi regional dan global. 

    Pada bagian akhir penjelasan, Jonathan dan David memberikan kesimpulan yang tidak proporsional. Ketidak-proporsionalannya terlihat pada penekanan yang terlalu optimis terhadap peningkatan fungsi pengetahuan sebagai sumber daya yang menciptakan kekuatan abadi asosiasi. Padahal dewasa ini, signifikansi pengetahuan hampir selalu terikat pada situasi kelas. Artinya, secerdas apapun LSM sebagai pemberi solusi akan hampir selalu dirintangi oleh struktur kelas yang ada. Pengetahuan memiliki kekuatan dalam asosiasi dikarenakan menguntungkan kepentingan-kepentingan kelas tertentu. Optimisme J&D terhadap meningkatnya fungsi pengetahuan adalah upaya untuk melebih-lebihkan peran teknologi interaktif yang memfasilitasi penciptaan ruang pengetahuan yang kemudian dapat membawa LSM ke dalam asosiasi kekuasaan. Jonathan dan David juga memberikan poin baru yang tidak dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, yaitu munculnya pernyataan bahwa teknologi interaktif dapat memberikan hambatan pada transformasi LSM. Penulis tidak menemukan penjelasan atas poin ini. 

4. Peluang Pengembangan Penelitian 
    Pada akhir tulisannya, Jonathan dan David memberikan saran pengembangan penelitian agar berfokus pada dampak perkembangan ruang pengetahuan yang difasilitasi oleh teknologi interaktif terhadap transformasi yang mungkin terjadi pada LSM. 

Referensi
Bach, J., & Stark , D. (2002). LINK, SEARCH, INTERACT: THE CO-EVOLUTION OF NGOs AND INTERACTIVE TECHNOLOGY. ISERP WORKING PAPER 02-03, 1-12.

Umumnya, kemiskinan dipandang sebagai kegagalan individu dalam berkontestasi di arena sosial. Pandangan tersebut mudah diterima di masyara...

Umumnya, kemiskinan dipandang sebagai kegagalan individu dalam berkontestasi di arena sosial. Pandangan tersebut mudah diterima di masyarakat tatkala dikaitkannya kondisi kemiskinan dengan kondisi rendahnya tingkat pendidikan, kemalasan, dan kebodohan si individu miskin tersebut. Melalui pandangan seperti itu, orang miskin sering kali disalahkan atas kondisi yang menimpa dirinya. Padahal..
Gambar oleh Peter H dari Pixabay 
.. kebanyakan dari kondisi kemiskinan diwarisi oleh generasi-generasi sebelumnya, yaitu orangtua-orangtua mereka. Individu yang tidak berdaya menerima warisan kondisi tersebut, mau tidak mau, hanya mendapatkan akses sumber daya yang apa adanya sebagai bekal bawaan mereka untuk bertempur di arena sosial. Sedangkan individu-individu lain yang berasal dari kalangan berada, mereka sedari awal telah mendapatkan akses lebih untuk bertempur di arena sosial. Mereka memiliki persiapan matang untuk terjun ke medan pertempuran.

Kenyataan memang demikian, tidak dapat dipungkiri dan tidak perlu disesali. Namun di balik itu semua, ada sifat-sifat yang menstimulasikan keadaan demikian yang dapat diubah, yaitu keserakahan. Tidak sepatutnya manusia tetap mewarisi sifat-sifat yang sejatinya tidak menambah apa-apa bagi hidup mereka. Tidak hanya orang kaya, meskipun kebanyakan memang orang kaya, orang miskin juga dapat menjadi serakah. Hanya saja, orang miskin tidak memiliki sarana dan momentum untuk menyalurkannya. Ini sifat umum yang dimiliki mayoritas manusia, terlepas dari asal-muasal kelas sosialnya. Sifat ini, dalam pandangan penulis, bertanggungjawab mereproduksi kemiskinan di masyarakat.

Seharusnya, keserekahan adalah subjek utama yang dibahas perihal masalah-masalah kemiskinan. Tidak seperti kemiskinan, keserekahan adalah kehendak sadar arogansi manusia yang dinyatakan ke dalam tindakan yang mengakumulasikan kapital. Oleh karena keserakahan adalah kehendak sadar manusia, maka sudah sewajarnya yang dipersoalkan adalah keserakahan itu sendiri, bukannya malah kemiskinan yang bahkan tidak dikehendaki oleh siapa pun.

Keserakahan adalah kehendak, sedangkan kemiskinan bukan kehendak. Namun, konstruksi sosial masyarakat masih menganggap kemiskinan sebagai pilihan gagal yang dikehendaki secara individual. Oleh karena itu, lahirlah pandangan umum masyarakat yang membenarkan penghakiman terhadap individu yang terjerat kemiskinan. Lebih dari itu, kebijakan dan hukum yang diproduksi oleh struktur sosial masyarakat juga menjadikan kemiskinan sebagai subjek utama yang harus diberikan stimulasi, alih-alih membatasi keserakahan manusia itu sendiri sebagai kehendak yang mendorong lahirnya kemiskinan.

Ketika moralitas tidak lagi membayang-bayangi manusia maka yang lahir adalah adegan tindas-menindas.

Manusia tidak lepas dari makna. 'Manusia' itu sendiri misalnya, bermakna (dimaknai) sebagai makhluk sosial, makhluk pekerja, makhl...

Manusia tidak lepas dari makna. 'Manusia' itu sendiri misalnya, bermakna (dimaknai) sebagai makhluk sosial, makhluk pekerja, makhluk cerdas, dan lain sebagainya. Oleh karena makna merupakan bagian dari kehidupan manusia, maka mempersoalkannya adalah bentuk gugatan terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Kenapa kita harus mempersoalkan makna? Apakah ada sesuatu di balik makna? Dan bagaimana makna memengaruhi kehidupan manusia?
Menggugat Makna
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay 
Eksistensi tidak sendirinya hadir dengan makna. Melalui lika-liku kehidupan, eksistensi mulai menyadari keterasingannya di pusaran realitas. Keterasingannya tersebut mencemaskan eksistensi akan hakikat dirinya, asal-muasal dirinya, dan untuk apa dirinya ada. Untuk menyembunyikan dan menutupi rasa cemas dari keterasingannya tersebut, manusia menggunakan berbagai cara, dan salah satunya melalui penggunaan makna.

Bagi eksistensialis, makna hanyalah salah satu alat untuk menjembatani kesadarannya agar 'terhubung' dengan realitas. Tidak seperti manusia umumnya—yang memandang makna sebagai bagian dari manusia itu sendiri—bagi eksistensialis, makna terpisah dari eksistensi manusia itu sendiri. Sebagaimana alat, eksistensialis mengoperasikan makna, bukan malah sebaliknya, dioperasikan oleh makna. Berangkat dari pernyataan tersebut, maka makna tengah digugat!

Menggugat Makna

Makna, seringkali berperan sebagai pelaku yang menstimulasi pikiran, perasaan, dan tindakan manusia untuk membenarkan aksi ataupun reaksi manusia terhadap realitas di sekitarnya. Misalnya, apabila dibandingkan dengan orang berpakaian rapih, orang berpakaian lusuh umumnya mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda (orang lusuh < orang rapih). Adanya hierarki makna di antara keduanya seolah-olah menjadi pembenaran atas perlakuan yang berbeda. Padahal, keduanya sama-sama manusia yang terasingkan oleh realitas—yang kedatangannya sama-sama tidak membawa makna.

Selain itu, makna juga berperan dalam memproduksi ketidakadilan yang difasilitasi oleh ketidaksetaraan yang tidak dapat dihindarkan oleh pendistribusian acak dadu kehidupan. Misalnya, orang dengan wajah kurang simetris dan berkulit gelap, saat kesan pertama, cenderung sulit mendapatkan kehangatan emosional apabila dibandingkan dengan orang yang memiliki wajah simetris dan berkulit cerah. Kenyataan ini disebabkan oleh hierarki makna yang ada pada keduanya. Hal ini pula membuat sebagian orang, dalam kasus yang tidak dapat dihindarkan, harus berusaha lebih keras dari yang lainnya. 

Kenyataan-kenyataan yang dimaknai secara hierarki seperti inilah yang membuat Penulis geram dan harus dipersoalkan. Bagaimana tidak, Penulis sendiri terkadang menjadi korban dari ketidakadilan hierarki makna tersebut. Terkadang, Penulis dihakimi oleh pemaknaan yang bahkan tidak merepresentasikan diri Penulis. Meskipun begitu, harus diakui pula bahwa pemaknaan yang mendahului realitas terkadang juga menguntungkan. Hal ini pun membuktikan bahwa makna bukanlah realitas itu sendiri.

Realitas atau kenyataan itu sendiri dapat dianalogikan sebagai suatu hindangan, dimaknai bagaimanapun juga, rasanya tetap sama. Hanya saja, ketika kita memaknainya, maka cara kita melihat dan menafsirkan realitas suatu hidangan menjadi berubah dan bervariasi. Apa yang dikomunikasikan kepada orang lain tentang hidangan tersebut pun menjadi tidak apa adanya, kadang meninggikan, kadang merendahkan. Kekonyolan seperti inilah yang menjadi kenyataan bagi sifat makna itu sendiri.

Sesuatu di balik Makna

Meskipun demikian, makna tidak dapat bertahan dan melembaga dengan sendirinya, kecuali memang sengaja dilestarikan dan direproduksi secara kontinu untuk tujuan tertentu. Lalu, siapa yang sengaja mereproduksinya untuk tujuan tertentu? Jawabannya, semua manusia yang sadar bahwa situasi kelasnya terikat oleh makna. Mereka adalah eksistensi yang bersembunyi di balik topeng kepentingan kelas mereka.

Persembunyian eksistensi ini bukan tanpa alasan, melainkan terdapat tujuan mendasar untuk mempertahankan kemapanan dirinya agar tetap 'ada'. Dan situsi kelas adalah sarana yang paling merepresentasikan kemampuan eksistensi dalam mempertahankan kemapanan dirinya di pusaran realitas. Misalnya, orang-orang kelas atas, mereka memiliki akses melimpah ke berbagai macam sumber daya di masyarakat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan eksistensinya agar tetap 'ada'. Sebaliknya dengan orang-orang kelas bawah, akses mereka sangat terbatas, 'ada' mereka sangat rentan.

Situasi semua kelas terikat oleh situasi pasar yang mana motor penggeraknya bukan hanya kebutuhan primer—sandang, pangan, papan—semata, melainkan terdapat motor ideologi sebagai kumpulan makna yang mengoperasikan hidup manusia dengan cara-cara tertentu. Motor ideologi tersebut menciptakan pola keteraturan yang kemudian dapat dengan mudah dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas tertentu.

Misalnya, ideologi-ideologi yang mewacanakan berbagai dikotomi biner antara makna kehidupan modern/ canggih/ keren dan makna kehidupan primitif/ kuno/ katro. Ideologi-ideologi semacam itu menguatkan situasi kelas yang memegang kendali atas perubahan dan kemajuan dalam bidang teknologi dan industri—yang keterlembagaannya ditopang oleh kekuatan institusi sosial-politik. Tanpa hierarki makna yang dibangun oleh dikotomi biner itu, usaha mereka menjual teknologi dan industri sulit menuai hasil.

Saat ini, kita hidup dalam bayang-bayang ideologi tersebut, seolah-olah, jika eksistensi kita tidak menjelma sebagai ekspektasi ideologi kehidupan modern, maka eksistensi kita menjadi kurang bermakna apabila dibandingkan oleh mereka yang memenuhi ekspektasi ideologi kehidupan modern. Ini nyata, tidak percaya? Coba saja dipraktikan. Apabila meminjam istilah Durkheim, maka hal ini dapat dinyatakan sebagai fakta sosial non-material—dengan cirinya yang universal, eksternal, dan memaksa.

Makna dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Manusia

Apabila ditinjau berdasarkan kedudukannya, makna dapat dibagi menjadi dua, yaitu makna struktural dan makna individual. Makna struktural adalah makna yang dibagikan, diakui, dikembangkan, dan dilembagakan secara kolektif di masyarakat. Misalnya, makna yang mengatur cara berpakaian manusia. Sedangkan makna individual adalah makna yang terbatas jika dibagikan dan terbentur oleh pengakuan orang lain. Makna individual diproduksi oleh keunikan pengalaman manusia secara personal—yang apabila kita membagikannya kepada orang lain, maka orang lain belum tentu dapat memahaminya, apa lagi mengakuinya. Misalnya, curahan hati orang perihal perasaan pribadinya terhadap orang yang disukainya.

Kenyataannya, kita senantiasa hidup dalam bayang-bayang makna, baik makna struktural ataupun individual. Kenyataan yang diperoleh dari makna struktural adalah fungsinya yang memfasilitasi cara manusia dalam berasa, berpikir, dan bertindak. Sedangkan kenyataan dari makna individual adalah fungsinya yang memfasilitasi kebebasan berekspresi secara personal. Kedua kenyataan tersebut saling berdialektika dalam memengaruhi kehidupan manunsia. Dan menariknya, karena dialektika itu makna dapat diretas fungsinya sejauh tidak dipertemukan dengan realitas, alias dijadikan sebagai alat kebohongan! Masih ingat, 'kan? Bahwa makna bukanlah realitas itu sendiri.

Apa-apa yang dapat dipengaruhi oleh makna adalah apa-apa yang dapat dimanfaatkan dari makna. Kehidupan manusia senantiasa dipengaruhi makna dikarenakan manusia memahami manfaat yang ada pada makna. Meskipun begitu, penggunaan makna terkadang tidak sejalan dengan manfaat utamanya sebagai ukuran yang mewakili realitas. Misalnya, pada perbedaan makna profesi. Seharusnya, makna suatu profesi diutamakan dari tingkat penghasilannya, namun kenyataan di lapangan dapat terjadi sebaliknya. Misalnya, seorang pengemis jalanan dapat menghasilkan uang 6-8 juta dalam sebulan, sedangkan seorang pegawai kantoran hanya mendapatkan gaji tetap 4 juta dalam sebulan. Namun kenyataannya, profesi pengemis tetaplah bermakna lebih rendah dari pada profesi pegawai kantoran.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia? Makna atau nilai dari realitas (penghasilan)? Melihat dari perbandingan makna profesi sebelumnya, maka makna seolah-olah lebih diutamakan dari pada nilai realitas (penghasilan) itu sendiri. Jawabannya tentu saja bukan karena manusia itu bodoh. Saat keadaan tertentu, manusia lebih memprioritaskan makna dikarenakan makna itu sendiri memiliki nilai yang dipertimbangkan secara struktural ataupun individual. Rendahnya makna profesi pengemis meskipun memiliki penghasilan lebih tinggi dari pegawai kantoran disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan struktural, salah satunya adalah prestise atau gengsi suatu profesi.

Dari kenyataan-kenyataan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa makna memiliki dunianya sendiri yang nilainya tidak selalu terikat oleh realitas. Artinya, makna adalah lapisan terpisah dari realitas yang beroperasi untuk mewakili realitas namun juga menciptakan realitasnya sendiri—yang bahkan nilai realitas ciptaannya dapat digunakan untuk melawan nilai dari realitas aslinya. Kenapa terjadi demikian? Karena gugatan eksistensialis terhadap makna, agar realitas yang tiada makna dihidupi sebagai moral.

Sebagaimana prinsip ekonomi, terjadinya pertukaran perilaku yang dilangsungkan melalui proses interaksi sosial diasumsikan melibatkan biay...

Sebagaimana prinsip ekonomi, terjadinya pertukaran perilaku yang dilangsungkan melalui proses interaksi sosial diasumsikan melibatkan biaya (cost) untuk mendapatkan ganjaran (reward) dari keberlangsungan hubungan pertukaran tersebut.
Prinsip kepentingan minimum Homans
Gambar oleh www_slon_pics dari Pixabay 
Sebelum itu, perlu diingat kembali bahwa ketidakpuasan (deprivation) dan kejenuhan (satiation) dalam suatu hubungan pertukaran sangat mungkin terjadi. Deprivasi terjadi apabila suatu ganjaran yang serupa diterima dalam jangka waktu berdekatan. Misalnya, seseorang yang berhasil menjadi murid terbaik (cost) diberi hadiah mobil oleh ayahnya (reward 1), kemudian tidak lama berselang diberi hadiah sepeda oleh gurunya (reward 2), ganjaran yang diberikan gurunya tersebut menjadi tidak terlalu memuaskan karena kepuasannya telah diluapkan pada pemberian mobil dari Ayah (reward 1). 

Sedangkan kejenuhan (satiation) adalah situasi di mana hadiah guru dan hadiah-hadiah yang diberikan orang lain setelahnya, menjadi tidak diinginkan lagi disebabkan efek berkurangnya kepuasan (deprivation) yang dihasilkan oleh jarak waktu pemberian reward yang saling berdekatan.

Berangkat dari penjelasan konsep deprivation dan satiation tersebut, dapat disimpulkan, bahwa besaran nilai suatu ganjaran ditentukan oleh intensitas kepuasan yang diperoleh dengan biaya dan waktu tertentu. Apabila seseorang memiliki biaya besar dan dapat memperoleh suatu ganjaran kapan saja dia inginkan, maka nilai kepentingan/urgensi suatu ganjaran menjadi berkurang. Hal ini lah yang kemudian melandasi munculnya prinsip kepentingan minimum.

Prinsip Kepentingan Minimum dan Asal Muasal Kekuasaan

Prinsip kepentingan minimum adalah kondisi di mana orang yang memiliki kepentingan paling sedikit terhadap ganjaranyang ditawarkan dalam suatu hubungan pertukaranpaling mampu menentukan situasi pertukaran. Prinsip ini menghasilkan kekuasaan di tangan salah satu pihak yang berpartisipasi, "Sebab dalam pertukaran (dengan situasi tersebut), seseorang memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memberi orang lain ganjaran ketimbang yang mampu diberikan orang itu kepadanya" Homans dalam (Poloma, 1979).

Misalnya, pada kasus pacaran tidak berimbang antara artis dan orang biasa. Apabila seorang artis terkenal menjalin hubungan pacaran dengan orang biasa, maka prinsip kepentingan minimum berlaku pada artis terkenal tersebut. Artis terkenal tersebut tidak bergantung pada ganjaran yang dihasilkan oleh hubungan pacarannya tersebut. Sang artis, bisa saja bergonta-ganti hubungan yang sangat mungkin pada hubungan selanjutnya mendapatkan ganjaran yang lebih dari yang sebelumnya. Sebaliknya, orang biasa akan berusaha mati-matian untuk mempertahankan hubungan pacarannya tersebut disebabkan ganjaran yang dihasilkannya, seperti ketenaran, misalnya.

Di sini lah asal muasal kekuasaan, di mana salah satu pihak (orang biasa) bergantung terhadap ganjaran yang disediakan oleh pihak lainnya (Artis) melalui hubungan pertukarannya (pacaran) tersebut. Maka dari itu, sang Artis memperoleh kekuasaan dari ketergantungan pihak lain (orang biasa) tersebut atas ganjaran yang dikendalikannya. Dengan demikian, sang Artis memperoleh kepatuhan dari pasangannya yang hanya orang biasa dan dapat dengan leluasa mengatur jalannya suatu hubungan tanpa khawatir kehilangan suatu ganjaran.

Status: Diferensiasi Pelayanan (cost & reward) dan Keadilan Distributif

Pada kenyataannya, individu-individu yang ada di masyarakat memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan pengorbanan/pelayanan (cost) terhadap suatu hubungan. Oleh karena perbedaan kontribusi pengorbanan dalam suatu hubungan, maka setiap individu memperoleh ganjaran (reward) yang berbeda-beda pula berdasarkan tingkat dan jenis kontribusinya.

Cara-cara terkait bagaimana suatu ganjaran didistribusikan juga ditentukan oleh bagaimana jenis pelayanan/pengorbanan (biaya) diberi nilai berdasarkan kontribusinya terhadap tujuan hubungan pertukaran. Selain itu, besar kecilnya pemberian ganjaran terhadap jenis pelayanan/pengorbanan juga ditentukan oleh perbandingan secara umum terhadap ganjaran dari jenis pelayanan/pengorbanan yang sama atau mirip di masyarakat. Mekanisme-mekanisme pemberian ganjaran terhadap jenis-jenis pelayanan ini lah melahirkan keadilan yang bersifat distributif.

Keadilan distributif kemudian mempengaruhi keputusan seseorang dalam membangun suatu hubungan pertukaranyang senantiasa mempertimbangkan tepatnya suatu distribusi biaya dan ganjaran tertentu. Dengan begitu, melalui keadilan distributif, mereka-mereka yang memiliki biaya (cost) lebih tinggi—dalam suatu hubungan pertukaranmenuntut perolehan ganjaran (reward) yang lebih tinggi pula.

Oleh karena itu, dalam suatu kelompok pertukaran, lahirnya status-status merupakan hasil dari keadilan distributif yang telah disepakati oleh anggota-anggota kelompok yang bersangkutan. Kesadaran bahwa beberapa anggota memiliki kontribusi lebih dari pada anggota lainnyaterhadap tujuan kelompokmengakibatkan lahirnya pembedaan status secara hierarki di antara anggota kelompok. Umumnya, anggota yang mampu memberikan biaya yang paling besar terhadap suatu kelompok memiliki status yang lebih tinggi dengan ganjaran yang tinggi pula, seperti status ketua, misalnya. Meskipun begitu, hukuman yang lebih tinggi juga menanti mereka (status tinggi) yang gagal memberikan pelayanan sebagaimana statusnya dalam suatu kelompok.

Daftar Pustaka

Johnson, D. P. (1981). Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives.
Poloma, M. M. (1979). Contemporary Sociological Theory.

Teori pertukaran sosial didasarkan pada suatu asumsi bahwa interaksi sosial mirip dengan transaksi ekonomi. Sebagaimana orang menyediakan ...

Teori pertukaran sosial didasarkan pada suatu asumsi bahwa interaksi sosial mirip dengan transaksi ekonomi. Sebagaimana orang menyediakan barang dan jasa dengan tujuan memperoleh imbalan berupa barang atau jasa yang diinginkan dari orang lain, maka interaksi sosial pun dipandang demikian. Sebagai gambaran awal dalam memahami pertukaran sosial, teori ini memulai analisisnya dengan menggambarkan kerangka hubungan sosial menggunakan prinsip dasar ekonomi, selanjutnya mendeskripsikan perilaku individu dalam konteks struktural, dan kemudian menjelaskan motif-motif perilaku individu menggunakan psikologi perilaku.
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay 
Teori yang dikembangkan oleh Homans berupaya untuk memperbaiki kekurangan teori fungsional yang memandang sebelah mata peran individu. Dengan memberikan tekanan individualistik pada teorinya, perilaku individu dipandang sebagai kunci yang menjelaskan fenomena sosial.

Persamaan dan Perbedaan: Asumsi Terkait Manusia dan Masyarakat

Ketidakpuasan Homans terhadap teori fungsional membuahi lahirnya teori pertukaran sosial. Hemat penulis, penting untuk mengetahui asumsi dasar Homans terkait manusia dan masyarakat serta persamaan dan perbedaannya terhadap teori fungsional. 

Dalam asumsinya tentang manusia, Homans memiliki banyak kesamaan dengan teori fungsional. Homans memandang manusia sebagai makhluk yang rasional—yang berorientasi tujuan—dan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan—struktur nilai, norma, aturan—yang berada di luar dirinya. Baik teori pertukaran maupun teori fungsional—keduanya—memandang manusia memiliki pilihan yang dibatasi secara struktural dan memberikan sedikit perhatian pada tindakan kreatif manusia. Sebagaimana yang dinyatakan Homans (1967), walaupun bertindak rasional, manusia tetap melakukannya di bawah "ilusi pilihan": "saya berbicara tentang ilmu sebab, saya sendiri percaya bahwa apa yang masing-masing kita lakukan benar-benar telah ditentukan sebelumnya".

Meskipun demikian, Homans menolak penjelasan fungsional tentang masyarakat. Menurutnya, eksistensi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari eksistensi individu yang senantiasa dalam proses pertukaran sosial. Bagi Homans dalam Poloma (1979), "orang-orang, bukan masyarakat yang memiliki kebutuhan. Hal ini sangat jelas dan menerima pandangan lain hanya akan membawa kita jauh dari pembicaraan kebenaran tentang masalah-masalah manusia." Maka dari itu, apabila fungsionalisme struktural menekankan struktur sosial sebagai unit analisis dalam sosiologi, maka Homans menekankan proses interaksi yang menghasilkan perilaku individu sebagai unit analisisnya.

Teori Pertukaran Homans

Homans berusaha bergerak lebih jauh dari upaya deskripsi (The Human Group) menuju upaya eksplanasi yang dituangkan dalam bukunya yang terbit 10 tahun kemudian, yaitu Social Behavior: its elementary Forms. Dapat dikatakan bahwa pandangan Homans semakin mikro, menurunkan proposisi-proposisi kelompok—yaitu kegiatan, interaksi, dan perasaan dalam sistem eksternal dan internal—menjadi proposisi-proposisi individu—yaitu sukses, stimulus, nilai, deprivasi-satiasi, dan restu-agresi. Secara eksplisit, Homans membatasi dirinya pada interaksi tatap-muka dimana pertukaran sosial bersifat langsung, bukan tidak langsung.

Dalam membangun teori pertukarannya, Homans menggunakan konsep psikologi perilaku Skinner dan konsep dasar ekonomi. Pada psikologi perilaku, temuan dari eksperimen Skinner terhadap binatang (burung merpati) digunakan Homans untuk mengamati perilaku sosial manusia terkait stimulasi positif atau negatif yang dihasilkan melalui proses interaksi manusia yang kemudian saling membentuk perilaku manusia tersebut. Reaksi perilaku manusia terhadap stimulasi yang dihasilkan melalui proses interaksi tersebut dilihat sebagai hasil yang berorientasi pada masa sekarang.

Pada konsep dasar ekonomi, Homans menggunakan konsep biaya (cost), imbalan (reward), dan keuntungan (profit) untuk menggambarkan perilaku manusia yang secara kontinu dihasilkan melalui pertimbangan-pertimbangan ketiga konsep tersebut dengan tujuan menghasilkan pilihan-pilihan alternatif dalam berperilaku. Dalam konsep dasar ekonomi, pertimbangan-pertimbangan manusia dalam berperilaku diorientasikan untuk hasil di masa depan.

Dengan begitu, konsep dasar ekonomi dapat menggambarkan hubungan-hubungan pertukaran, dan sosiologi, dapat menggambarkan struktur-struktur sosial yang melatari kejadian suatu pertukaran, tetapi yang memegang kunci penjelasan adalah psikologi perilaku. (Poloma, 1979)

Kemudian, dalam (Johnson, 1981) Homans menyatakan "seperangkat proposisi umum yang akan saya gunakan dalam buku ini, menggambarkan perilaku sosial sebagai suatu pertukaran kegiatan paling kurang antara dua orang, yang nampak atau yang tersembunyi, dan kurang lebih yang memberikan reward atau mengeluarkan cost." Selain itu, dalam merespon pemikiran fungsional, Homans dalam (Poloma, 1979) "bukan hanya status dan peran yang berasal dari fungsionalisme yang menyediakan mata rantai antara individu dan struktur sosialnya; melainkan oleh karena struktur atau lembaga-lembaga demikian itu terdiri dari individu-individu yang terlibat dalam proses pertukaran barang berwujud materi maupun non-materi."

Oleh karena itu, Homans percaya bahwa proses pertukaran dapat dijelaskan lewat pernyataan proposisional Skinnerian, yaitu sukses, stimulus, nilai, deprivasi-satiasi, dan restu-agresi (Poloma, 1979). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing proposi-proposisi tersebut.

Pertama, proposisi sukses. Proposisi ini menggambarkan terbentuknya perilaku manusia karena tindakan-tindakan yang dilakukan sukses mendapatkan ganjaran. Menurut Homans dalam (Poloma, 1979) "semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh ganjaran, maka semakin sering manusia akan melakukan tindakan tertentu itu." Pendek kata, proposisi ini dapat menjawab pertanyaan "kenapa manusia hanya melakukan tindakan-tindakan tertentu?"

Kedua, proposisi stimulus. Proposisi ini menggambarkan seperangkat stimulus tertentu yang dilibatkan dengan peristiwa terjadinya suatu tindakan. "Jika di masa lalu terjadinya stimulus yang khusus, atau seperangkat stimuli, merupakan peristiwa di mana tindakan seseorang memperoleh ganjaran, maka semakin mirip stimuli yang ada sekarang ini dengan yang lalu itu, akan semakin mungkin seseorang melakukan tindakan serupa atau yang agak sama," Homans dalam (Poloma, 1979). Secara sederhana, stimulus dapat dikatakan sebagai rangkaian kegiatan atau cara untuk mencapai proposisi sukses. Proposisi ini dapat menjawab pertanyaan "kenapa tindakan-tindakan tertentu sukses memperoleh ganjaran?"

Ketiga, proposisi nilai. Homans dalam (Poloma, 1979) menyatakan bahwa "semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka semakin senang seseorang melakukan tindakan itu." Proposisi ini menjelaskan ganjaran dan hukuman yang terdapat dalam suatu tindakan. Proposisi nilai merupakan inti dari proposisi yang bersifat eksplanasi (penjelas) yang merepresentasikan urgensitas/kepentingan suatu tindakan yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan. Proposisi ini menjawab pertanyaan "kenapa manusia menginginkan ganjaran dari kesuksesan tindakan tertentu?"

Keempat, proposisi deprivasi-satiasi. Dalam (Poloma, 1979) Homans menyatakan bahwa "semakin sering di rentang waktu yang dekat seseorang menerima suatu ganjaran, maka semakin kurang bernilai bagi orang tersebut peningkatan setiap unit ganjaran itu." Artinya, nilai kepuasan suatu ganjaran akan berkurang apabila diterima terus-menerus dalam waktu dekat. Misalnya, orang yang haus apabila mendapatkan ganjaran minum air maka akan memperoleh nilai kepuasan maksimum di awal, akan tetapi, minum air untuk kedua kalinya  dalam waktu dekat akan mengurangi nilai kepusan, bahkan pada titik tertentu, ganjaran dapat berubah menjadi hukuman, misalnya kembung. Proposisi ini menjawab pertanyaan "kenapa manusia menjadi tidak puas meskipun memperoleh ganjaran dari tindakan yang sama?"

Kelima, proposisi restu-agresi. Apabila tindakan yang diperbuat manusia tidak memperoleh ganjaran yang diinginkannya, maka manusia cenderung meluapkan kekecewaannya ke dalam tindakan marah atau sedih sebagai tanda ketidakpuasan terhadap ganjaran dari tindakannya tersebut. Proposisi ini menjawab pertanyaan "kenapa manusia dapat bertindak marah dan sedih?"

Kesimpulan

Dengan melihat proposisi sebagai separangkat unit analisis, Homans percaya para ahli sosiologi dapat menjelaskan apa yang disebut kaum fungsionalis struktural sebagai "struktur sosial". Bagi Homans, perilaku sosial yang paling institusional dan non-institusional dengan demikian dapat dijelaskan melalui penerapan dan penyempurnaan kelima proposisi psikologis elementer itu. (Poloma, 1979)

Salah satu perbedaan yang paling penting antara perilaku non-institusional dan perilaku institusional adalah bahwa yang institusional jauh lebih kompleks dengan banyak pertukaran yang bersifat tidak langsung daripada yang langsung. Homans mengemukakan bahwa institusi sosial tidak bertahan dengan dinamikanya sendiri yang terlepas dari proses sosial (pertukaran perilaku) yang mendasar. Dengan demikian, institusi sosial itu senantiasa tergantung pada dinamika perilaku sosial dasar, di mana individu berusaha memuaskan kebutuhannya sebagai manusia (bukan sebagai anggota suatu institusi sosial atau masyarakat). (Johnson, 1981)

Daftar Pustaka

Johnson, D. P. (1981). Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives.
Poloma, M. M. (1979). Contemporary Sociological Theory.

Sebelum memutuskan bercerai dengan teori fungsional, pemikiran Homans dalam karyanya  The Human Group  memberikan sumbangan terhadap anali...

Sebelum memutuskan bercerai dengan teori fungsional, pemikiran Homans dalam karyanya The Human Group memberikan sumbangan terhadap analisis struktur, proses, dan fungsi sosial pada kelompok kecil (primer). Pada tulisan ini, penulis akan membahas secara ringkas bahasan The Human Group yang mana merupakan sumbangan Homans terhadap teori fungsional.
Kelompok primer (kecil) Homans
Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Kelompok Primer Homans dan Teori Fungsional

Kenapa kelompok kecil? Menurut Homans, sistem sosial kelompok kecil identik dengan hukum-hukum perkembangan, struktur, dan fungsi dalam kelompok besar, termasuk peradaban secara keseluruhan, misalnya. Selain itu, keuntungan meneliti kelompok kecil adalah karena kemudahannya untuk diamati ketimbang kelompok besar.

Dalam pengertiannya, Homans menggambarkan kelompok sebagai "sejumlah orang yang berkomunikasi satu sama lain dalam frekuensi tinggi dalam jangka waktu tertentu, dan hanya terdiri dari beberapa orang saja sehingga masing-masing mampu berkomunikasi dengan semua orang lain tanpa lewat seseorang" (Homans, 1951).

Dalam menjelaskan fenomena kelompok kecil, Homans menggunakan tiga konsep utama, yaitu kegiatan, interaksi, dan perasaan. Konsep kegiatan digambarkan sebagai perilaku aktual individu yang dapat dibandingkan menurut persamaan dan perbedaan—tingkatannya dan kegiatannya—terhadap individu lain. Konsep interaksi digambarkan sebagai segala sesuatu yang merangsang dan dirangsang oleh/untuk kegiatan individu lain—yang dapat dibedakan menurut frekuensi, stimulasi sebab-akibat, dan sarana/medium terjadinya interaksi. Sedangkan konsep perasaan, digambarkan sebagai tanda eksternal—seperti raut wajah marah dan tersenyum—yang menunjukan keadaan internal—seperti perasaan kekecewaan dan kepuasan.

Menurut Homans, ketiga elemen tersebut membentuk suatu keseluruhan yang terorganisir dan berhubungan secara timbal-balik, yang kemudian membentuk sistem sosial suatu kelompok. Perubahan pada salah satu elemen akan merangsang perubahan pada elemen lainnya. Jangkauan pengaruh yang dihasilkan dari hubungan timbal balik ketiga elemen tersebut menandakan batas suatu kelompok. Di luar selain itu, adalah pengaruh kepribadian dan personal yang dibawa oleh individu dari luar kelompok dan juga pengaruh konteks sosial-budaya yang secara umum menyelimuti kelompok tersebut.

Berangkat dari penjelasan tersebut, analisis Homans terhadap kelompok kecil melahirkan gambaran tentang sistem eksternal dan internal. Sistem eksternal adalah kegiatan, interaksi, dan perasaan yang bersifat formal—seperti peran individu yang termasuk di dalamnya hak dan kewajiban, dan juga peran peralatan serta teknologi—yang semuanya telah diatur sesuai tujuan kelompok. Sedangkan sistem internal, adalah kegiatan, interaksi, dan perasaan yang bersifat informal—seperti hubungan asmara dan persahabatan dalam suatu kelompok. Kedua sistem ini—eksternal dan internal—memiliki hubungan saling memengaruhi.

Meskipun Homans mengakui bantuan teori fungsional dan juga mendapatkan pujian atas sumbangannya The Human Group, Homans tetap merasa tidak puas. Menurutnya, teori fungsional telah gagal menjelaskan fenomena sosial karena terbatas pada pemahaman yang bersifat deskriptif. Bagi Homans, "setiap ilmu haruslah melakukan dua kewajiban: yaitu menemukan dan menjelaskan. Dengan yang pertama kita menilai apakah itu benar-benar merupakan suatu ilmu, sedang dengan yang kedua, kita harus mengetahui sejauh mana ia berhasil sebagai suatu ilmu (Homans, 1969)." Dengan demikian, teori fungsional hanya dipandang sebagai usaha dalam mendeskripsikan fenomena sosial namun gagal dalam memberikan penjelasan.

Daftar Pustaka

Johnson, D. P. (1981). Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives.
Poloma, M. M. (1979). Contemporary Sociological Theory.

Secara sederhana, berpikir dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas yang terjadi di dalam otak yang dimaksudkan (serangkaian aktivita...

Secara sederhana, berpikir dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas yang terjadi di dalam otak yang dimaksudkan (serangkaian aktivitas tersebut) untuk memecahkan suatu masalah. Lalu, apa yang terjadi jika tidak tersisa lagi permasalahan yang harus dipecahkan? Apakah manusia akan berhenti berpikir?
Kenapa Kita Berpikir
Gambar oleh Comfreak dari Pixabay 
Pada dasarnya, berpikir adalah instrumen/alat pemecah masalah. Sebagai alat, tentunya, aktivitas berpikir serta pemikiran itu sendiri tidak inheren dengan kesadaran jiwa manusia—terdapat jarak yang memisahkan keduanya. Meskipun demikian, berpikir adalah tangan kanan terloyal yang dimiliki oleh kesadaran jiwa manusia. Dengan begitu, berpikir adalah instrumen yang paling mungkin dan pasti merepresentasikan—sedikit-banyak—eksistensi manusia. Tidak mengherankan jika diktum "aku berpikir maka aku ada" begitu populer hingga dewasa ini, 

Kenapa berpikir begitu istimewa daripada merasa? Dalam pandangan penulis, terdapat perbedaan mendasar antara berpikir dan merasa. Berpikir adalah aktivitas kesadaran jiwa yang melahirkan pemikiran, sedangkan merasa bukanlah aktivitas sadar, melainkan, aktivitas yang distimulasikan oleh alam bawah sadar—kemudian mengaktifkan reaksi kimia yang berhubungan dengan kemunculan emosi/perasaan manusia. Perbedaan ini menunjukan bahwa berpikir adalah aktivitas yang istimewa bagi eksistensi manusia, sedangkan merasa, tidak.

Kenapa Kita Berpikir

Tujuan manusia berpikir adalah agar manusia itu berhenti berpikir. Misalnya, apabila kita memikirkan masalah x dan dapat menyelesaikannya, maka kita akan berhenti memikirkan masalah x. Dalam konteks yang lebih luas, yaitu masyarakat, fungsi mekanisme penyelesaian masalah oleh aktivitas berpikir digantikan dengan aktivitas sistem. Misalnya, institusi pendidikan seperti sekolah, menyelesaikan permasalahan orangtua terkait mendidik anak. Lainnya, institusi ekonomi seperti pasar, menyelesaikan permasalahan masyarakat terkait konsumsi. 

Lebih daripada itu, terdapat struktur sosial yang dianggap mapan dalam memfasilitasi mekanisme penyelesaian permasalahan manusia secara umum. Segala sesuatu—nilai, norma, aturan, kebiasaan—yang diterima begitu saja tanpa dipermasalahkan oleh pikiran adalah bukti telah tergantikannya aktivitas berpikir manusia oleh sistem yang ada. Dalam menjalani rutinitas, hampir semuanya, manusia mengandalkan sistem yang ada tanpa berpikir dan mempertanyakannya kembali. Sehingga, hampir semua manusia bertindak secara otomatis menggunakan mode auto-pilot.

Kapan sistem dipertanyakan dengan aktivitas berpikir? Berpikir dan mempertanyakan sistem muncul apabila sistem yang dianggap mapan, dalam kenyataannya, tidak dapat menyelesaikan persoalan manusia—sebagian atau keseluruhan. Misalnya, kenapa kita makan dengan tangan kanan? Sebagian orang yang tidak bisa menggunakan tangan kanan akan berpikir dan mempertanyakan sistem norma yang sudah mapan tersebut. Kenapa kita bersekolah? Sebagian orang yang kesulitan untuk bersekolah atau mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dari sekolah, tentunya, akan berpikir dan mempertanyakan kembali alasan bersekolah tersebut.

Pada kenyataannya, sistem buatan manusia tidak pernah sanggup menyelesaikan semua permasalahan manusia—baik terhadap sekelompok manusia atau semua manusia. Alasan pertama yang sangat mendasar adalah kelemahan manusia dalam menerjemahkan permasalahan secara jernih dan akurat. Sehingga, solusi yang dihasilkan oleh kegiatan berpikir manusia cenderung rapuh. Kedua, manusia adalah makhluk eksistensial yang senantiasa bertujuan untuk kemapanan eksistensinya. Sehingga, solusi yang dihasilkan selalu ditujukan untuk dirinya yang utama. Ketiga, manusia adalah makhluk relasional yang kebermaknaan dirinya senantiasa dipertaruhkan oleh kekuatan relasinya. Sehingga, solusi yang dihasilkan sangat sulit bebas nilai.

Dari kenyataan itu semua, maka tidak dapat dipungkiri bahwa sistem yang dibuat oleh manusia mustahil dapat bekerja secara adil. Oleh karena ketidakadilan sistem itu, manusia senantiasa berpikir untuk memperbaikinya, memperbaikinya, dan terus memperbaikinya. Sehingga, apakah manusia akan berhenti berpikir? Jawabannya, manusia tidak dapat berhenti berpikir.

Dalam menjalani kehidupannya, manusia senantiasa membutuhkan gairah—seperti motivasi atau tujuan—sebagai alasan yang mendsasari — semua a...

Dalam menjalani kehidupannya, manusia senantiasa membutuhkan gairah—seperti motivasi atau tujuan—sebagai alasan yang mendsasarisemua atau sebagian—perasaannya, pemikirannya, dan juga tindakannya agar memiliki makna. Secara garis besar, terdapat dua gairah eksistensial yang setidaknya penulis dapat bedakan berdasarkan pengamatan dan pengalaman personal, yaitu gairah relasional dan gairah kebebasan.
Gairah Makhluk Eksistensial
Gambar oleh Tom und Nicki Löschner dari Pixabay 

Gairah Relasional: Ciri Makhluk Sosial

Sebagaimana namanya, terciptanya gairah ini didasari oleh relasi-relasi yang dimiliki oleh suatu eksistensi. Relasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada hubungan sesama manusia, melainkan juga hubungan terhadap hewan, benda, atau bahkan pada setiap aktivitas manusia, baik yang digemari secara personal, seperti hobi, atau yang dituntut secara sosial, seperti bersekolah. Meskipun demikian, unsur-unsur dari pembentukan semua relasi tersebut tetap bermula pada hubungan antar sesama manusia.

Relasi terhadap sesama manusia adalah sumber gairah pertama eksistensial. Sejak lahir, manusia telah diberikan nama oleh orangtuanya. Nama adalah pemaknaan yang pertama kali dilekatkan oleh orangtua terhadap manusia, dengan harapan, kelak manusia tersebut memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan pemaknaan pada nama yang dilekatkannya. Melalui cara itu, harapan-harapan ideal—yang bersumber dari kecemasan dan semangat eksistensial orangtua—ditransmisikan melalui nama. Tindakan demikian semata-mata bertujuan agar manusia mewarisi kecemasan dan semangat eksistensial orangtuanya tersebut.

Relasi kuat terhadap orangtua membuat makna hidup manusia selalu terikat dengan eksistensi mereka. Misalnya, hampir semua manusia memaknai tujuan hidupnya untuk membahagiakan orangtua mereka. Apabila orangtua manusia tiada, manusia merasa telah kehilangan sebagian besar makna hidupnya, terutama dialami bagi mereka yang belum memenuhi tuntutan relasional untuk membahagiakan orangtua. Eksistensi manusia dapat menjadi bergairah namun juga dapat menjadi lesu, hanya karena relasinya dengan orangtua. Menurut penulis, kasus seperti ini adalah contoh terbaik yang menjelaskan gairah relasional eksistensialis manusia.

Sebagaimana uraian sebelumnya, eksistensi yang diaktifkan oleh gairah relasional tersebut memiliki kelemahan, yaitu terlalu bergantung pada hubungan yang dimiliki manusia terhadap sesuatu di luar dirinya. Ketergantungan ini menjadi malapetaka apabila manusia gagal dalam memenuhi harapan-harapan dari hubungan relasionalnya.

Misalnya, apabila kamu tidak dapat memenuhi harapan-harapan dari relasi sosial masyarakat secara umum—seperti tuntutan untuk berpendidikan minimal SMA—dan jika kamu hanya berpendidikan sampai SD, maka makna eksistensimu di masyarakat menjadi berkurang, bahkan pada kasus ekstrem, kamu dianggap tidak ada. Orang-orang disekitarmu pun tidak memaknaimu sebagai sesuatu yang penting. Kenapa demikian? Pertama, tujuan dasar eksistensi adalah untuk tetap ada (hidup). Kedua, karena tujuan tersebut, segala sesuatu yang berkontribusi terhadap pemenuhan tujuan dasar eksistensi menjadi bermakna. Apabila kita amati pada kasus pendidikan, bermodalkan hanya ijazah SD sulit untuk berkontribusi secara mapan terhadap tujuan eksistensi tersebut. Sehingga, secara umum, mereka yang hanya berpendidikan SD menjadi kurang bermakna dibandingkan dengan yang telah berpendidikan SMA.

Pendek kata, bergairah atau tidaknya eksistensi manusia lebih disebabkan oleh pemaknaan yang terdapat dalam hubungan relasionalnya. Manusia yang bergantung pada gairah relasional hanya merasa hidup apabila mendapat pengakuan dan makna dari orang lain (hubungan relasionalnya). Namun, bagaimana dengan mereka yang eksistensinya tidak diakui makna keberadaannya? Mereka yang kalah dan tidak mampu memenuhi tuntutan dan harapan relasionalnya? Jawabannya ada diakhir tulisan ini.

Gairah Kebebasan: Ciri Makhluk Individual

Apabila gairah relasional menggambarkan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial, maka gairah kebebasan sebaliknya, yaitu menggambarkan eksistensi manusia sebagai makhluk individual. Dalam hal ini, manusia merasa terbebani dengan relasi-relasi yang dimilikinya, terutama bagi manusia yang sangat tertekan oleh tuntutan-tuntutan relasionalnya tersebut. Bagi manusia yang sanggup mengatasi tuntutan relasionalnya, sangat mungkin, tidak akan tertarik untuk membebaskan diri dari ikatan relasionalnya. Sebaliknya, manusia yang tidak sanggup mengatasi tuntutan relasionalnya sangat mungkin untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatan—tuntutan dan pemaknaan—relasional tersebut.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semua manusia yang eksistensinya didominasi oleh gairah kebebasan adalah mereka yang tertekan oleh ikatan relasionalnya. Eksistensi yang digairahkan oleh kebebasan bisa saja bersumber dari hasrat keinginan manusia itu sendiri. Atau, bisa saja bersumber dari kemampuan manusia dalam merefleksikan pengalaman hidup mereka. Walaupun sulit memastikan apa dan dari mana sumbernya, gairah kebebasan memiliki kesamaan ciri mendasar, yaitu kesadaran akan adanya jarak antara eksistensinya dengan makna.

Kesadaran akan adanya jarak antara dirinya dengan makna memiliki konsekuensi logis bahwa manusia tidak lagi merasa terikat dengan makna relasionalnya. Dengan jarak, manusia mampu menjadikan makna sebagai instrumen yang memfasilitasi kepentingan individualnya. Manusia memegang makna sebagaimana alat, dapat digenggam juga dilepas apabila dibutuhkan atau tidak lagi dibutuhkan. Namun, konsekuensi logis daripada itu semua adalah bangkitnya kesadaran manusia bahwa kebermaknaan eksistensinya semu.

Berbeda dengan manusia yang tidak diakui makna eksistensinya, manusia dengan gairah kebebasan bisa saja sangat diakui makna eksistensinya dan bertingkah laku sama seperti manusia dengan gairah relasional. Namun, manusia dengan gairah kebebasan tetap dapat dibedakan. Manusia dengan tipe gairah ini memiliki rute hidupnya sendiri—yang tidak dapat diterjemahkan dengan pemahaman apapun. Contoh terbaik dari kasus ini adalah manusia yang tidak terbawa suasana lingkungannya. Manusia ini memiliki corak tersendiri yang membedakannya dari kerumunan.

Pendek kata, eksistensi yg tetap bergairah atau semakin bergairah tanpa terikat oleh pemaknaan orang lain, hidup dalam suatu kebebasan sekaligus kehampaan. Di satu sisi, eksistensinya dapat bebas dari ikatan makna relasional. Namun di sisi lain, eksisistensinya hampa.

Matinya Gairah Eksistensial

Eksistensi manusia, jika kecemasannya tidak lagi diakui maknanya, dapat berakhir pada situasi ketidakbermaknaan dan kekosongan eksistensial. Kecemasan adalah bahasa eksistensi jiwa. Jika bahasa itu diabaikan keberadaan maknanya, maka tidak ada lagi yang bisa diucapkan oleh jiwa selain kekosongan. Pada situasi ini, gairah eksistensial sangat mungkin menemui kematiannya, yaitu ketidakbermaknaan eksistensial. Manusia yang mengalami hal ini sangat mungkin menjadi frustrasi dan depresi.

Oleh karena itu, penting untuk kita belajar memerhatikan dan menghargai kecemasan orang lain—tanpa melihat hubungan sosialnya, baik itu latar kelas, status, pendidikan, ideologi, dsb. Barangkali perhatianmu adalah penyelamat jiwanya.

Siapakah yang sebenarnya harus kita layani dari setiap ekspresi yang kita salurkan? Apakah untuk orang-orang yang kita cintai? Yaitu hubun...

Siapakah yang sebenarnya harus kita layani dari setiap ekspresi yang kita salurkan? Apakah untuk orang-orang yang kita cintai? Yaitu hubungan sosial, seperti orangtua, pasangan, kerabat ataupun sahabat. Apakah untuk melayani diri sendiri? Yaitu raga, seperti kepuasan biologis dan psikologis. Apakah untuk melayani jiwa kita sendiri? Seperti menemukan ketenangan dan kelapangan jiwa. Jika sudah menemukan jawabannya, melalui ekspresi tersebut, apa yang sebenarnya harus kita cari dari momentum kehidupan yang singkat ini?
Gambar oleh Elias Sch. dari Pixabay 
Umumnya manusia akan menjawab "ekspresi kami melayani ketiganya, yaitu sosial, raga, dan jiwa". Namun, benarkah mereka memahami arti dari ketiganya? Dari yang kuketahui, umumnya ekspresi manusia hanya merepresentasikan kebutuhan sosial dan raganya saja. Alih-alih kebutuhan jiwa itu yang utama, kehidupan manusia justru seringkali menghadapi ketegangan hubungan, kekhawatiran masa depan, dan ketakutan akan kematian. Lalu, dimana ekspresi yang melayani kebutuhan jiwa itu?

Dewasa ini, umumnya jiwa manusia telah layu, yang bermekaran hanyalah kehidupan raga dan sosialnya saja. Pernyataan ini dapat dibuktikan secara sederhana, baik melalui refleksi ataupun pengamatan. Melalui refleksi, kita cukup menolehkan wajah pada cermin lalu bertanya kepada diri sendiri, "apakah kamu siap bercerai dengan ragamu?". Sedangkan melalui pengamatan, kita cukup menolehkan wajah pada kehidupan masyarakat yang semakin modern tapi justru semakin jauh dari tujuan moral bermasyarakat, yaitu menghilangkan penderitaan yang masih juga dialami oleh sebagian manusia.

Kebanyakan ekspresi manusia di era modern saat ini hanyalah representasi kebutuhan raga dan sosialnya saja. Misalnya saja percakapan sesama manusia, yang seringkali hanya gambaran dari adanya kesamaan kepentingan dan kelas sosial. Alih-alih menghasilkan kelapangan jiwa, percakapan sesama manusia justru menghasilkan ketegangan dan kecemasan jiwa melalui persaingan kepentingan.

Pendek kata, dapat menemukan ekspresi murni dari jiwa manusia di era modern saat ini adalah suatu hal yang langka dan istimewa. Lalu, jika kamu sudah benar-benar menemukannya, apa yang seharusnya dicari dari momentum kehidupan yang singkat ini?

Di kesunyian malam, badai rindu telah menghinggapi diri ini. Perasaan yang entah dari mana datangnya, apabila ditelusuri, tidak kunjung di...

Di kesunyian malam, badai rindu telah menghinggapi diri ini. Perasaan yang entah dari mana datangnya, apabila ditelusuri, tidak kunjung ditemukan akarnnya dari kenyataan.

Gambar oleh Andrea Stöckel-Kowall dari Pixabay 
Mungkin saja itu adalah pengalaman jiwa. Jika kita berasumsi bahwa jiwa bukanlah materi, maka sudah sepatutnya tidak terpenjara dalam dimensi ruang & waktu. Mungkin, pengalaman jiwa sudah terbentuk lama bahkan sebelum dimasukan ke dalam raga. Sebagian adalah pengalaman masa lalu yang diwariskan oleh nenek moyang. Sebagian lagi adalah pengalaman yang telah dan sedang kita alami selama hidup. Dan mungkin sebagian lainnya adalah pengalaman yang bersumber dari masa depan kita.

Apakah kalian pernah sepertiku? Memimpikan seseorang yang tidak dikenal dan ketika bangun membawa perasaan yang istimewa. Perasaan yang tidak pernah diperoleh melalui pengalaman empiris selama hidup. Akan tetapi, perasaan itu ada dan nyata! Barangkali perasaan itu adalah pengalaman masa depanku dengan orang lain. Seseorang yang mungkin suatu saat hubungannya denganku menghasilkan perasaan yang istimewa ini.

Perasaan istimewa yang mungkin berasal dari masa depan itu sangat membekas di jiwa. Karena saking membekasnya, mungkin, perasaan itu secara tidak sengaja ikut diterjemahkan oleh alam bawah sadarku. Alam bawah sadarku mengira itu adalah kenyataan empiris yang pernahku alami. Padahal, aku tidak pernah mengalaminya di kehidupan nyata.

Walau waktu telah berlalu 5 tahun lamanya, perasaan istimewa itu masih membekas di jiwaku. Semoga saja perasaan itu benar adanya, bukan sebuah delusi, ataupun halusinasi semata. Sejak awal tulisan ini dibuat, diriku hanya berpijak di atas pengandaian, bahwa pengalaman jiwa mungkin saja melampaui pengalaman empiris. 

Apa yang membuatku meyakini pengandaian itu adalah fenomena fobia yang dialami oleh hampir semua manusia dan beberapa oleh sebagian kecil manusia. Selain itu, apakah kalian pernah mengalami deja vu? Saat mengalami peristiwa baru, seolah-olah peristiwa itu pernah dilami sebelumnya, namun pada kenyataanya, kita baru mengalaminya. Rasa penasaranku walaupun masih dalam proses pencarian, untuk sementara membuatku meyakini bahwa pengalaman jiwa mungkin saja melampaui pengalaman empiris.

Manusia berbahagia, pun menderita. Manusia tertawa, pun menangis. Manusia tersenyum, pun cemberut. Kehidupan manusia tidak terpisahkan ole...

Manusia berbahagia, pun menderita. Manusia tertawa, pun menangis. Manusia tersenyum, pun cemberut. Kehidupan manusia tidak terpisahkan oleh kedua bentuk dikotomis peristiwa tersebut, yang penulis wakilkan dengan istilah komedi dan tragedi.
Gambar pohon komedi dan tragedi
Gambar oleh Franck Barske dari Pixabay 
Komedi dan tragedi memiliki hubungan yang sangat dekat, yaitu sebagai saudara kandung. Ibunya adalah pengalaman manusia yang mengoperasikan kehidupan, sedangkan bapaknya adalah mekanisme alam yang mengoperasikan realitas. Kalau ibu melakukan kesalahan kepada bapak maka lahirlah komedi. Kalau bapak melakukan kesalahan kepada ibu maka lahirlah tragedi. Kehidupan rumah tangga yang dipenuhi dengan pertengkaran antara subjektivitas sang ibu dan objektivitas sang bapak.

Sebagai permisalan ekstrem tragedi, maka kematian adalah yang paling mewakili bentuk mekanisme alam yang mustahil ditolak. Kematian menjadi tragedi karena sang bapak dengan objektivitasnya merenggut subjektivitas sang ibu secara paksa. Kehidupan yang diopersaikan oleh pengalaman manusia dihentikan oleh realitas yang dioperasikan mekanisme alam.

Namun, tidak semua kematian dijiwai sebagai tragedi. Tidak semua ibu posesif terhadap kehidupan manusia. Ada pula ibu yang memahami bahwa kedudukan subjektivitasnya dideterminasi oleh objektivitas sang bapak. Pemahamannya tersebut membawa pengalaman manusia pada level kesadaran tertinggi sebagai makhluk fana yang sedang sekarat menuju kematian. Dengan begitu, kematian hanya diartikan sebagai dialog perpisahan antara ibu dan bapak, antara pengalaman manusia dengan realitas alam.

Sedangkan komedi, maka kebodohan adalah yang paling mewakili bentuk pengalaman manusia yang secara potensial dapat ditolak. Kebodohan menjadi komedi karena sang ibu dengan subjektivitasnya dapat salah dalam memahami objektivitas sang bapak. Kesalahpahaman yang dihasilkan oleh pengalaman manusia senantiasa dimunculkan oleh benturan antara subjektivitas dengan objektivitas.

Namun, tidak seperti tragedi kematian. Komedi kebodohan tidak dialami oleh semua manusia. Faktanya, kesalahpahaman hanya terjadi di dalam pikiran individu. Oleh karena itu, kebodohan bersifat individual. Karena bersifat individual, komedi kebodohan hanya dialami oleh individu-individu yang melakukan kesalahpahaman terhadap kekakuan realitas alam. Dengan begitu, kebodohan menjadi komedi ketika individu-individu lain menyaksikan adegan kesalahpahaman manusia terhadap kekakuan realitas.

Pendek kata, kematian menyalahi keinginan manusia untuk tetap hidup, sehingga disebut sebagai tragedi. Sedangkan kebodohan menyalahi kekakuan mekanisme alam, sehingga disebut sebagai komedi. Tragedi adalah realitas yang tidak dapat dihindarkan, sedangkan komedi adalah pengalaman yang dapat dihindarkan. Oleh karena itu, objek dari tragedi adalah manusia secara keseluruhan, sedangkan objek dari komedi adalah manusia secara individual.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Hemat penulis, cinta adalah titik temu keduanya. Perkawinan antara komedi dan tragedi. Sebagai komedi, cinta menyalahi kesendirian eksistensi manusia. Sebagai tragedi, cinta menyalahi kebersamaan esensial individu. Tidak heran, jika kebahagiaan cinta selalu dibayang-bayangi penderitaan.

Apakah aku harus memenuhi ekspektasimu? Atau aku tetap harus menjadi diriku? Apakah orisinalitas diri lebih utama ketimbang diriku yang ha...

Apakah aku harus memenuhi ekspektasimu? Atau aku tetap harus menjadi diriku? Apakah orisinalitas diri lebih utama ketimbang diriku yang harus disesuaikan dengan ekspektasimu? Menjadi diri sendiri tapi kehilangan mu atau menjadi orang lain tapi mendapatkanmu?
Paradoks Cinta: Dualisme Ekspektasi
Gambar oleh S. Hermann & F. Richter dari Pixabay 

Dualisme Ekspektasi

Menurutku, upaya untuk memenuhi ekspektasimu sama saja upaya untuk mencemari kemurnian diriku sendiri. Memang, terdapat kepuasan apabila kita dapat memenuhi ekspektasi pasangan kita. Namun, jika kita telah terbiasa dengan itu, bukankah sama saja kita telah menghilangkan diri kita yang sebenarnya? Begitu pula yang terjadi pada pasangan kita. Diri kita dan diri pasangan kita justru saling diterjemahkan sesuai ego pasangannya, bukan oleh keautentikan egonya masing-masing sebagai makhluk merdeka.

Persoalannya, apakah hubungan cinta yang seperti itu akan bertahan lama? Sebarapa lama diri kita mampu memenuhi ekspektasi pasangan kita? Bukankah kita sering mendengar desas-desus mengenai karakter asli pasangan yang baru terungkap ketika pernikahan telah berjalan? Lalu, bagaimana seharusnya cinta diterjemahkan dan dipraktikan?

Lagi-lagi kita terjebak dalam suatu paradoks. Cinta tidak dapat menerjemahkan dirinya sendiri (untuk menamai dirinya saja tidak bisa), dengan begitu cinta membutuhkan subjek penerjemah. Subjek penerjemah tersebut tidak lain adalah diri kita. Sebagai manusia, kita memiliki ego yang mewujud pada ekspektasi pasangan yang ideal. Ekspektasi itulah yang mungkin saja menjadi barang buruan ego kita, bukan cinta.

Subjek penerjemah memiliki kemungkinan untuk salah ketika membedakan mana cinta dan mana ego. Dan seringkali, hal ini terjadi pada kedua pasangan sekaligus. Alhasil, alih-alih mereka saling mencintai dengan tulus, mereka justru saling tertekan karena tuntutan untuk memenuhi ego ekspektasi pasangannya masing-masing.

Mengurai Paradoks

Ada dua kemungkinan apabila kita mengalami perasaan cinta terhadap seseorang. Pertama, kita mencintai ego kita sendiri dengan 'mencintai' orang lain sebagai alat pemuas ego. Kedua, kita mencintai orang lain dengan ego kita sebagai alat pemuas cinta. Sederhananya, yang pertama adalah cinta sebagai alat untuk memuaskan ego, sedangkan yang kedua adalah ego sebagai alat untuk memuaskan cinta.

Pada kemungkinan pertama, seseorang mencintai orang lain karena orang itu sesuai ekspektasinya. Orang tersebut memiliki keinginan untuk mendapatkan apa yang diekspektasikannya tersebut. Pada kemungkinan ini, manusia mengorbankan 'cinta' sebagai alat pembenaran egonya. Padahal, dia hanya mencintai egonya sendiriyang secara kebetulan egonya itu dipuaskan oleh seseorang. Setelah egonya didapat, barulah benih-benih cinta dipaksakan untuk tumbuh dan dipertahankan. Cinta itupun tumbuh atas dasar ego.

Pada kemungkinan pertama ini, perilaku sepasang kekasih senantiasa dikendalikan oleh ego masing-masing pasangannya. 'Cinta' justru digunakan sebagai alat kekuasaan yang dioperasikan oleh masing-masing ego pasangan tersebut. Misalnya, "kalau kamu tidak melakukan hal ini, artinya kamu tidak mencintai ku", "kalau kamu mencintai aku maka kamu harus nurutin kemauanku". Alhasil, kedua pasangan tersebut saling menggunakan 'cinta' sebagai alat pemuas egonya masing-masing. 'Cinta' digunakan untuk mengendalikan tubuh, pikiran, bahkan perasaan pasangannya. Pendek kata, inilah cinta yang memenjarakan orisinalitas manusia.

Pada kemungkinan kedua, seseorang mencintai orang lain bukan karena orang itu sesuai ekspektasinya. Terdapat daya tarik lain (cinta itu sendiri) yang keberadaannya justru mendekonstruksi ego ekspektasi manusia tentang pasangan ideal. Pada kemungkinan ini, manusia mengorbankan egonya sebagai alat pembenaran cintanya. Setelah cintanya didapat, barulah benih-benih ego ditumbuhkan kembali. Ego yang sebelumnya dikorbankan untuk mendapatkan cinta akan kembali tumbuh, namun tumbuh atas dasar cinta.

Pada kemungkinan kedua ini, perilaku sepasang kekasih senantiasa mengalir bebas mengikuti derasnya arus cinta keduanya. Cinta berperan sebagai pelaku yang mengendalikan ego kedua pasangan tersebut. Misalnya, "kalau hal ini membuat mu semakin mencintai ku, maka akan kulakukan", "kalau nurutin kemauanku membuat cintamu redup maka jangan turutin yaa". Alhasil, kedua pasangan tersebut saling mengorbankan egonya masing-masing atas dasar hubungan cinta, bahkan karena hal itu pula cinta mereka terawat. Cinta telah bersemayam sebagai tujuan bukan alat. Pendek kata, inilah cinta yang membebaskan orisinalitas manusia.

Pada kemungkinan pertama, yaitu cinta sebagai alat pemuas ego, ekspektasi terhadap cinta memenuhi kondisi paradoks dualisme. Cinta hanya hidup di dalam angan, mimpi, dan harapan-harapan dari masing-masing ego pasangan tersebut. Cinta tidak benar-benar hidup sebagai suatu hubungan ataupun tujuan, melainkan hanyalah khayalan belaka. Pada kemungkinan kedua, yaitu ego sebagai alat pemuas cinta, ekspektasi terhadap cinta menjadi cair dan tidak menemui bentuk yang baku. Cinta mengendalikan ego manusia untuk memenuhi ekspektasi dari cinta itu sendiri, yaitu pengorbanan masing-masing ego pasangan. Dengan begitu, ekspektasi terhadap cinta bukan bersumber dari ego pasangan, melainkan dari tujuan hubungan cinta itu sendiri.

Kesimpulan

Kedua kemungkinan tersebut pada kenyataannya sulit ditemukan secara sempurna di lapangan. Faktanya, cinta bukanlah satu-satunya tujuan hidup manusia, terdapat tujuan-tujuan lainnya yang bahkan dapat lebih penting dari cinta. Hubungan manusia juga tidak sebatas dengan satu orang yang kita cintai, melainkan juga ada hubungan lainnya yang sangat mungkin lebih krusial dari hubungan cinta itu sendiri. Karenanya, pengalaman kita dalam mencintai seseorang tidak dapat dipisahkan dari rumitnya konteks yang melatari kehadiran cinta tersebut.

Paradoks dualisme ekspektasi cinta hanya bisa diuraikan di atas tulisan, bukan di lapangan. Benturan ekspresi sosial dan ekspresi jiwa tidak dapat dipisahkan secara tegas batasannya. Sangat mungkin yang kita anggap sebagai ekspresi jiwa (cinta & kasih sayang) adalah ekspresi sosial (tuntutan berkeluarga & hidup berpasangan) atau bisa saja hanya ekspresi biologis semata (kebutuhan seksual). Lagi-lagi, persoalan cinta bukanlah persoalan yang mudah dibicarakan dan dipraktikan.

Namun, penulis meyakini bahwa cinta yang tulus hingga dapat melumpuhkan ego pasangan itu ada. Cinta yang seperti itulah yang berhasil melepaskan diri manusia dari paradoks dualisme ekspektasi. Cinta bukanlah milik ego pasangan, tapi ego itu sendirilah yang dimiliki oleh cinta. Dengan begitu, ekspektasi cinta hanyalah satu, bukan dari ego masing-masing, melainkan dari tujuan cinta itu sendiri.

Bagaimana jadinya cinta jika kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Bagaimana jadinya cinta jika yang dicintai justru mengharapkan cin...

Bagaimana jadinya cinta jika kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Bagaimana jadinya cinta jika yang dicintai justru mengharapkan cinta itu binasa. Rasa cinta datang begitu saja dan sulit untuk dihindarkan—tidak jarang, pemiliknya menganggap ini anugrah. Namun di sisi penerima, alih-alih anugrah, cinta itu justru dianggap bencana bagi penerima yang tidak mengharapkan kehadirannya.

Gambar oleh Ylanite Koppens dari Pixabay 

Dualisme Perspektif

Mungkin saja, aku bukanlah orang yang kamu harapkan cintanya. Jika itu benar, aku hanya bisa pasrahkan mimpi dan harapan cinta ku pada doa. Di sinilah paradoks perspektif bekerja. Di sisi ku, doa yang ku panjatkan adalah mimpi indah bagi ku. Di sisi mu, doa yang ku panjatkan adalah mimpi buruk bagi mu. Aku sangat ingin memiliki mu, namun di sisi lain, kamu sangat tidak ingin dimiliki oleh ku. Bagi ku, itu adalah doa. Bagi mu, itu adalah kutukan.

Paradoks seperti ini menjerat manusia yang cintanya bertepuk sebelah tangan, atau kehadiran cintanya sama sekali tidak diharapkan. Cinta sebagai sesuatu yang diharapkan tetapi juga dapat tidak diharapkan. Paradoks tersebut membuktikan bahwa cinta tidak dapat dipisahkan dari perspektif manusia. Dengan begitu, bagaimana cinta itu dimaknai sangat tergantung dengan persepsi yang dihasilkan oleh pecinta dan yang dicinta. Pada persepsi yang saling berlawanan,  paradoks dualisme perspektif sulit dihindarkan.

Melenyapkan Paradoks

Ada dua cara untuk keluar dari paradoks ini. Pertama, memisahkan atau paling tidak meminimalkan ego dalam memaknai cinta. Dengan begitu, cinta dapat dimaknai dengan leluasa tanpa terikat oleh ego manusia, terutama ego untuk menguasai dan memilki. Cara ini mengharuskan manusia untuk mendukung orang yang dicintainya sesuai harapan dari orang yang dicintainya tersebut, bukan malah sebaliknya. Dengan demikian, tujuan cinta dapat tersalurkan sebagai pelayan kebaikan bagi penerimanya.

Kedua, menihilkan makna cinta itu sendiri. Cara ini dapat dipraktikan apabila kehadiran cinta sama sekali tidak diharapkan atau ditolak. Cara ini mengharuskan manusia membebaskan cinta dari segala macam pemaknaan. Dengan begitu, cinta dapat dimaknai sesuai keadaan yang diharapkan dari orang yang dicintai. Jika yang dicintai mengharapkan cinta mu itu binasa, maka cinta mu harus diartikan demikian, yaitu binasa. Atau, jika yang dicintai sedang membutuhkan sesuatu, maka cinta mu itu harus mewujud sebagai pemenuh kebutuhannya. Ini adalah cara mencintai dalam senyap—yang dicintai tidak perlu menyadari bahwa ia tengah dicintai. Meskipun dalam senyap, tujuan cinta dapat terealisasikan sebagai pelayan kebaikan bagi hidupnya.

Kesimpulan

Dualisme perspektif harus dihindarkan, dan tidak boleh menghasilkan paradoks perspektif. Karena tujuan cinta itu sendiri sejatinya satu, yaitu melayani orang yang dicintai dengan kebaikan. Jika terjadi dualisme perspektif, maka telah terjadi pengkhianatan terhadap tujuan dari cinta itu sendiri. Sudah seharusnya kita berbahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Jika cinta mu justru menciptakan kondisi sebaliknya, maka dualisme cinta telah terjadi dan kedua cara di atas dapat digunakan untuk membuktikan betapa sungguh-sungguhnya engkau dalam mencintai.